BELUM MENYERAH (sayangnya)


 

"Hujan datang lagi dengan sangat deras. Bunga cantik di tamanku terkoyak karenanya," gerutuku di teras rumah, melihat anggrek sempoyongan mempertahankan hidupnya di tengah hujan lebat yang datang tiba-tiba. Aku sangsi bunga itu akan bertahan kali ini.

"Kamu tahu, anggrek itu bunga yang sulit dikalahkan. Jangankan badai, tak kau urus selama ini pun ia tetap hidup dan mekar cantik. Sudahkah kau hitung berapa kali badai hujan angin menerpanya?" tanya sisiku yang duduk berseberangan.

"Sudah ratusan, bahkan ribuan kali mungkin," sahutku dengan tatapan tetap pada bunga yang tampak hendak menyerah itu.

"Mungkin sekarang ia terlihat lemah dan seakan akan mati karena badai ini. Namun, setelah semua ini usai, ia akan hidup kembali meski dengan beberapa tangkai yang patah. Percayalah, ia sudah terbiasa menghadapi keadaan seperti ini, bahkan yang lebih mengerikan." Lagi-lagi sisi seberangku menegaskan ucapannya.

Hal itu pula yang membuatku mengangguk, yakin bahwa bunga itu memang telah terbiasa menjalani kehidupan seperti itu. Kita lihat saja esok, bagaimana ia akan kembali menjalani hidup dengan tangkai-tangkai patahnya.

"Baiklah, lihat saja apa yang ia akan lakukan untuk tetap bertahan hidup," gumamku, mempercayai bunga itu. Dan dalam gumam itu pula, aku mempercayai diriku yang tengah gagal untuk kesekian kalinya ini.


Teras Rumahku

April 15, 2026


Post a Comment

0 Comments