Kalian pernah nggak sih ngerasa terlalu santai menghadapi sesuatu cuma karena mikir, “Ah gampang ini mah, pasti bisa”?
Aku sering banget.
Terutama soal wawancara kerja. Entah kenapa, setiap mau interview aku selalu merasa sudah paling ngerti sama diriku sendiri. Aku pikir bagian memperkenalkan diri atau menjawab pertanyaan tentang kepribadian bakal jadi hal paling mudah karena ya… itu tentang diriku sendiri. Harusnya gampang kan?
Akhirnya aku jadi jarang review lagi sebelum wawancara. Bahkan beberapa hari sebelumnya, fokusku bukan lagi latihan pertanyaan interview atau nyusun cara jawab yang rapi. Aku malah sibuk riset perusahaan, lihat culture kerjanya, stalking aktivitas mereka, sampai sudah membayangkan diriku kerja di sana. Padahal lolos interview aja belum tentu.
Yang lucu, hampir setiap interview aku selalu pulang dengan perasaan, “Kayaknya aman deh.”
Sampai beberapa hari kemudian datang email penolakan yang nadanya sopan tapi rasanya kayak ditampar.
“Maaf, Anda belum lolos.”
Atau biasanya sampai berbulan-bulan nggak ada kabar samsek. Alias di-ghosting nggak tuh.
Dan seperti biasa, habis itu aku mulai muter-muter sendiri di kepala. Salahnya di mana? Kurang apa? Padahal tadi lancar-lancar aja.
Sampai akhirnya aku sadar satu hal yang agak nyebelin untuk diakui: mungkin aku terlalu percaya diri.
Bukan percaya diri yang sehat, tapi yang diam-diam bikin aku ngeremehin persiapan. Aku terlalu yakin sama kemampuan improvisasiku sampai lupa kalau interview juga punya pola. Ada hal-hal dasar yang sebenarnya harus dipelajari sebelum masuk ruangan itu.
Aku baru kepikiran soal ini waktu ada saudaraku yang nanya:
“Sebenernya kamu udah ngerti pola interview yang bakal kamu hadapi belum?”
Dan anehnya, pertanyaan sesimpel itu langsung bikin aku diem.
Karena ternyata selama ini aku nggak benar-benar memperhatikan polanya. Aku cuma percaya kalau nanti pasti bisa jawab sendiri ketika ditanya. Padahal setiap interview punya pendekatan berbeda, punya ritme berbeda, bahkan kadang mereka lebih menilai cara kita berpikir dibanding jawaban kita sendiri.
Dan aku terlalu sibuk merasa “udah bisa” sampai lupa belajar.
Pathetic nggak sih?
Tapi makin ke sini aku sadar, overconfident memang bahaya karena dia bikin orang berhenti waspada. Kita jadi males prepare, males evaluasi, dan ngerasa semuanya bisa diberesin modal pede doang.
Padahal sering kali yang bikin seseorang terlihat matang bukan karena dia paling hebat, tapi karena dia tetap datang dengan persiapan meskipun sebenarnya dia mampu.
Tapi ya, terlalu nggak pede juga nggak bagus. Karena akhirnya kita malah takut nyoba dan sibuk minder duluan.
Jadi mungkin yang paling masuk akal memang cukup jadi confident aja, tanpa over dan less. Percaya sama diri sendiri tanpa merasa paling siap di ruangan.
Karena kadang kegagalan datang bukan karena kita nggak mampu, tapi karena kita terlalu yakin sampai lupa belajar hal-hal kecil yang ternyata penting.
again, luv for tuday.
Moy




0 Comments