Ada fase dalam hidup ketika kita merasa sudah sudah sembuh dari segala macam rasa rendah diri dan berubah pelan-pelan menjadi versi terbaik dari diri sendiri, walaupun harus berdarah-darah dulu. Lalu keadaan, dengan santainya, ngegas mundur tanpa aba-aba. Percaya diri yang sudah dirakit susah payah, dari berbagai distraksi positif berhari-hari, tiba-tiba ambyar cuma gara-gara satu komentar, satu kejadian, atau satu orang yang merasa hidup kita adalah proyek evaluasi publiknya.
Aku nggak tahu siapa yang pertama kali bilang “percaya diri itu datang dari dalam diri.” Kayaknya dia belum pernah hidup di lingkungan yang hobi banget ngasih penilaian gratis tanpa diminta. Karena realitanya, rasa percaya diri itu sering kali dibangun dari dalam… lalu dihancurkan dari luar, keroyokan.
Baru juga ngerasa “oke lah, aku nggak jelek-jelek amat kok,” eh ada yang nyeletuk, “kamu jelek banget kaya orang belum mandi.” Lah, tadi katanya nggak jelek-jelek amat, sekarang jadi proyek before-after. Belum lagi kalau kita mulai pede ngomong di forum, tiba-tiba ada satu orang yang hobi banget motong pembicaraan, seolah-olah mic itu warisan keluarganya.
Yang lebih ngeselin, kadang “something” itu bukan orang lain, tapi situasi. Kita sudah latihan, sudah siap, sudah meyakinkan diri kalau “aku pasti bisa.” Lalu boom syakalaka, kesalahan kecil terjadi, dan otak langsung muter ulang kejadian itu kayak playlist lagu galau. Sekali salah, langsung merasa seluruh kompetensi kita gagal. Padahal ya… manusia emang tempatnya salah, bukan tempatnya sempurna.
Lucunya, kita jarang mempertanyakan kenapa satu komentar negatif bisa lebih nempel daripada sepuluh pujian. Mungkin karena kita diajarkan untuk lebih percaya kritik daripada apresiasi. Atau mungkin karena dalam hati kecil, kita memang belum sepenuhnya berdamai dengan diri sendiri. Jadi begitu ada yang “mengkonfirmasi” insecurity kita, langsung kita amini tanpa musyawarah.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, capek juga kalau hidup terus-terusan ngasih remote kontrol ke orang lain. Masa iya, rasa percaya diri kita bisa diatur cuma dari omongan random orang yang bahkan besok udah ga ada pengaruhnya dihidup kita?
Mungkin problemnya bukan di “something/ones” yang merusak, tapi di betapa gampangnya kita memberikan akses. Kita terlalu cepat menjadikan opini orang lain sebagai fakta, dan terlalu pelit memberi validasi ke diri sendiri.
Bukan berarti kita harus jadi kebal kritik, ya. Kritik tetap penting ya, asal disaring. Nggak semua suara layak didengar, apalagi yang datangnya cuma dari kebiasaan nyinyir, bukan niat membangun.
Jadi mungkin, alih-alih berharap dunia berhenti merusak kepercayaan diri kita (yang jelas-jelas utopis), lebih realistis kalau kita belajar memperkuat fondasinya. Biar kalau ada yang coba ngerusak, minimal nggak langsung runtuh kayak biskuit kena teh. Tapi ya aku berharap juga, manusia lain bisa "ngertiin" kalau setiap manusia itu sedang berjuang dengan strugle-nya masing-masing. Jadi kalau ngomong mohon agak dijaga (masukin nomor satu buat aku sih).
Karena pada akhirnya, percaya diri itu bukan soal nggak pernah goyah. Tapi soal seberapa cepat kita berdiri lagi setelah goyah; meskipun, ya, dunia kadang emang hobi banget ngerecokin.
Spread Positivity,
Moy




0 Comments